Merjosari, Malang – Tradisi halal bihalal kembali menjadi momen yang dinantikan warga RW 11 Merjosari pasca-Idul Fitri 1446 H. Di setiap RT, warga merayakan halal bihalal dengan caranya masing-masing, mencerminkan kekayaan budaya dan semangat kebersamaan di lingkungan ini.
Pengertian Halal Bihalal
Halal bihalal adalah tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri sebagai ajang silaturahmi dan saling memaafkan. Meski tidak ditemukan dalam tradisi negara-negara Islam lainnya, di Indonesia kegiatan ini sudah mendarah daging dan menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran. Istilah “halal bihalal” sendiri dipercaya berasal dari tradisi pesantren, yang kemudian berkembang luas di masyarakat.
Keunikan Halal Bihalal di Lingkungan RW 11
Keunikan acara halal bihalal di lingkungan RW 11 terlihat dari beragamnya cara masing-masing RT menyelenggarakan kegiatan tersebut:
- Ada RT yang menyulap jalan utama menjadi tempat kumpul bersama warga. Jalan ditutup sementara, tikar digelar, makanan rumahan disajikan, dan suasana keakraban terasa kental. Anak-anak hingga lansia hadir, berbagi tawa dan cerita.

- Ada RT yang memilih suasana kekeluargaan dengan menggelar acara di rumah salah satu warga. Seorang kiyai diundang untuk memberikan tausiah, menyejukkan hati dan memperkuat nilai keislaman di tengah masyarakat. Acara ditutup dengan makan bersama dan doa untuk kebersamaan.

- Ada RT yamg mengajak warganya untuk halal bihalal di luar ruangan yang berbeda: pantai. Dengan menyewa kendaraan, warga RT ini melakukan perjalanan bersama ke pantai terdekat. Di sana mereka mengadakan permainan, makan bersama, dan tentu saja saling bermaaf-maafan di bawah semilir angin laut.

- RT lainnya memiliki cara yang tak kalah unik—ada yang menggabungkan halal bihalal dengan kegiatan seni seperti penampilan hadrah atau rebana, ada pula yang mengadakan lomba masak antarwarga sebelum acara puncak halal bihalal.
Ketua RW 11 Dr PARDIMAN, dalam pernyataannya, menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan dan kreativitas setiap RT dalam menjaga tradisi. “Halal bihalal ini bukan hanya tentang maaf-memaafkan, tapi juga tentang memperkuat silaturahmi, menjaga kerukunan, dan menciptakan rasa memiliki di tengah lingkungan kita,” ujarnya.
Lebih lanjut disampaikan bahwa jika lingkungan ingin maju, berkembang, dan sukses meraih prestasi, maka Kebersamaan dan Keguyuban lah kata kuncinya. ibarat mesin, kebersamaan adalah pelumasnya. Jika kebersamaan dan Keguyuban tidak terbangun dalam lingkungan, sama halnya mesin tanpa pelumas. maka lingkungan akan sering terjadi gesekan antar anggotanya.
Melalui berbagai cara dan suasana, semangat halal bihalal di RW 11 Merjosari menunjukkan bahwa kebersamaan bisa tumbuh dalam keberagaman, dan tradisi lokal bisa menjadi perekat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
RK
