Malang, 20 Feb 2025 – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa, termasuk di Malang, masih melestarikan tradisi Megengan sebagai bentuk syukur dan persiapan menyambut bulan penuh berkah.
Megengan berasal dari kata “megeng” dalam bahasa Jawa yang berarti menahan, mencerminkan makna puasa sebagai ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan dengan mengadakan doa bersama, berbagi makanan, serta meminta maaf kepada sesama agar memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih.
Salah satu ciri khas dalam Megengan adalah hidangan apem, kue tradisional yang melambangkan permohonan ampunan. Apem yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula ini dibagikan kepada tetangga dan kerabat sebagai simbol berbagi berkah.
Di berbagai daerah, Megengan juga diisi dengan pengajian, tahlilan, dan doa bersama di masjid atau rumah warga. Beberapa komunitas bahkan mengadakan sedekah makanan sebagai wujud kepedulian sosial menjelang bulan Ramadan.
Bagi masyarakat, Megengan bukan sekadar tradisi, tetapi juga momentum mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan spiritualitas. Dengan menjaga warisan budaya ini, nilai-nilai kebersamaan dan religiusitas tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
RK
