MALANG – Semangat pelestarian lingkungan kini bukan sekadar wacana bagi warga RT 10 RW 11,
Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Dalam upaya mendukung program Proklim
(Program Kampung Iklim) bentukan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), warga setempat secara masif
menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) melalui program unggulan lokal yang diberi nama
SOIMA (Sustainable Organic & Inorganic-waste Management).
Pemilahan Sampah dari Pintu ke Pintu
Program SOIMA menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk memilah sampah langsung dari
sumbernya, yakni tingkat rumah tangga. Warga tidak lagi mencampur sampah organik dan anorganik.
Sampah organik dikelola menjadi kompos, sementara sampah anorganik, khususnya botol plastik,
dikumpulkan melalui gerakan “Jimpitan Botol”.
“Kami ingin sampah tidak lagi menjadi beban, tapi memiliki nilai tambah. Dengan Jimpitan Botol, warga
mengumpulkan botol plastik di rumah masing-masing sebelum akhirnya dibawa ke titik kumpul untuk
dipilah bersama,” ujar salah satu pengurus RT di sela-sela aktivitas warga.
Mengejar Iklim Utama Trofi
Ketua RW 11, Dr. Pardiman, MM, memberikan apresiasi tinggi atas kreativitas warga RT 10. Menurutnya,
partisipasi aktif seperti ini merupakan kunci utama bagi wilayahnya untuk meraih penghargaan tertinggi
di tingkat nasional.
“Kreativitas warga sangat dibutuhkan untuk menyukseskan giat Proklim di lingkungan RW 11. Target kita
adalah meraih Iklim Utama Trophy. Apa yang dilakukan RT 10 dengan SOIMA-nya adalah bukti nyata
bahwa kemandirian ekonomi berbasis lingkungan bisa dimulai dari lingkup terkecil,” tegas Dr. Pardiman.
Melalui sinergi antara program pemerintah pusat dan inovasi lokal seperti Jimpitan Botol, Kelurahan
Merjosari kini optimis dapat menjadi percontohan nasional dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
secara mandiri dan berkelanjutan.
DT
